![]() |
| Pengukuhan Forum Adat Ke-II Kesangajian Bicoli |
Maba, abarce - Nuansa adat terasa kental di Desa Bicoli, Kecamatan Maba Selata. Forum Adat Ke-II Kesangajian Bicoli menjadi ruang konsolidasi masyarakat adat sekaligus momentum penguatan kelembagaan tradisional melalui pengukuhan Bobato Sangaji Bicoli oleh Sultan Tidore.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (21/1/2026) Sekira pukul 11.00 WIT, itu dihadiri sekitar 80 peserta dan dipimpin langsung oleh Sangaji Bicoli. Hadir pula Sultan Tidore H. Husain Alting Sjah, Jojau Kesultanan Tidore H. Ishak Naser, Danbrigif TP 28/Baru Fola Kolonel Inf. Rinto Wijaya, para Bobato dan Kapita Sangaji Bicoli, kepala desa se-Kecamatan Maba Selatan, para imam, serta tamu undangan lainnya.
Rombongan Sultan Tidore disambut secara adat melalui prosesi Cokaiba dan tarian Cakalele. Prosesi adat tersebut menandai dimulainya forum, sebelum dilanjutkan dengan pelantikan dan pengukuhan Bobato Sangaji Bicoli sebagai simbol penguatan struktur adat di wilayah Kesangajian Bicoli.
Sangaji Bicoli Samaun Seba dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Sultan Tidore serta terlaksananya pengukuhan perangkat adat.
“Forum adat ini menjadi langkah penting untuk menjaga nilai budaya, memperkuat persatuan, dan merawat keharmonisan sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sultan Tidore H. Husain Alting Sjah menegaskan bahwa adat memiliki posisi strategis dalam mendukung kerja-kerja pemerintahan, khususnya dalam meredam konflik sosial.
“Adat memiliki peran penting dalam membantu pemerintah, terutama ketika terjadi konflik sosial di tengah masyarakat,” katanya.
Sultan juga menyoroti minimnya keterlibatan pejabat daerah dalam kegiatan adat serta mengingatkan pentingnya generasi muda mengenal jati diri dan menghormati adat sebagai dasar persatuan dan ketertiban.
“Putra daerah harus mengenal jati dirinya dan menghargai adat sebagai fondasi persatuan dan ketertiban,” tegasnya.
Menurut Sultan, semangat persatuan, kearifan lokal, dan penghormatan terhadap adat harus berjalan seiring dengan arahan Presiden Republik Indonesia.
Ajakan untuk membangun sinergi juga disampaikan Jojau Kesultanan Tidore H. Ishak Naser. Ia menekankan pentingnya pemahaman hukum adat oleh masyarakat adat.
“Masyarakat adat harus memahami hukum adat agar dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan keberlanjutan wilayah,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sultan Zainal Abidin Sjah. Forum berakhir pada pukul 13.40 WIT, sebelum Sultan Tidore dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Kota Sofifi.
